Kamis, 12 Januari 2012

love n fam


Waktu masih sekolah dasar, beberapa kali saya mengetahui pertengkaran kedua orang tua saya. Mirisnya, saya menjadi ketakutan, seolah akan melihat mereka tak bersama lagi kemudian. Hingga pernah saya menangis memeluk ibu dan mengatakan," Ibu, kalau ada apa-apa dengan kalian, saya ikut ibu saja. Saya nggak mau ikut bapak." Ibu saya dengan bijak dan teduh menjawab,"Nak, ibu juga bisa saja salah. Begini, kamu coba ngobrol dengan ayahmu melalui surat. Bilang kalau kamu tidak mau ini terjadi." Setelah itu saya pun mengambil pulpen dan secarik kertas. "Pak, saya takut kalau Bapak dan Ibu bertengkar terus. Saya nggak mau seperti ini. Saya ingin, keluarga kita seneng, tidak ada pertengkaran. Saya sama adik takut."

Selang sehari kemudian kedua orang tua saya sudah berbaikan.

Saya begitu salut dengan sistem komunikasi yang ibu ajarkan. Pada jaman itu belum ada telepon rumah, TV juga standard, keadaan yang begitu sederhana. Tapi bagi saya, didikan yang ibu lakukan kepada saya. Luar biasa.

Senin, 09 Januari 2012

marah elegan?


Saya menulis ini karena terinspirasi dari status facebook teman yang motivator, Sigit Risat. Menurutnya 'marah' adalah cara mudah untuk memperlihatkan ke semua orang. Inilah aku yang belum mampu mengendalikan ego. Iseng-iseng saya pernah juga membaca status facebook, twitter, atau bbm teman. Ada yang bahagia, marah, dan sedih. Biasanya kalau mereka marah tak jarang menuliskan kata-kata sumpah serapah, dengan tanda baca yang over, memperkuat kesan marah. Dan kesan saya, kebanyakan itu negatif.

Marah itu boleh, siapa sih yang tak pernah marah? Tetapi bisa kan dikontrol? Alangkah tersiksanya apabila kita tidak boleh marah, harus selalu jaim? Saya pernah ngobrol dengan teman, tentang cara marah secara elegan. Hahaha.....sepertinya sulit ya? Tapi tidaklah begitu. Menurut saya pribadi, marah itu sangat dianjurkan, tetapi ada aturan main. Silahkan anda menghujat sepuasnya diri anda atau orang yang anda tidak suka, tetapi cukup pada ranah pribadi. Ketika itu terpaksa dimunculkan ke publik, istilahnya menjadi tidak 'marah' lagi, tetapi lebih kepada 'sikap'. Ini akan lebih positif. Mengapa? Karena pertama, kita akan lebih dahulu berpikir, benarkah tindakan yang sudah saya lakukan? Perlukah ini dievaluasi? kedua, pernyataan 'marah' elegan anda akan menjadi setingkat lebih ber-value sehingga sasaran kemarahan anda akan menjadi sadar dan mengikuti pola pikir anda. Bukan malah balik mencerca, atau bahkan bisa lebih murka dari marahnya Anda.

out of the box


Thinking out of the box. Kalimat ini sangat mudah dibaca, dipahami, tapi tak semua orang bisa menerapkan. Dalam masalah apapun sering kita terbuai, larut dalam persoalan, sehingga lupa konteks masalah. Padahal kalau dilakukan, impactnya sungguh luar biasa.

Misalnya ketika kita putus cinta. Seolah dunia gelap, pikiran berat, tak ada orang yang memiliki masalah seberat apa yang kita punya. Pacar selingkuh, padahal kita sudah berkorban mati-matian mempertahankan hubungan. Well, kalau kita berani berpikir ke luar dari kotak, kita akan paham dan lebih bersyukur. Masih untung kita putus ketika masih dalam suasana pacaran. Coba kalau sudah terikat pernikahan? Tentunya akan banyak lagi hal yang harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan. Stereotype, keluarga, urusan administratif, hingga gono-gini. Tetapi kita juga tidak bisa mengadili seseorang yang terpaksa bercerai, karena ia belum tentu lebih buruk dari kita. Tiap orang punya masalah sendiri-sendiri, yang akan bisa diselesaikan sesuai kemampuan masing-masing.

Demikian pula dalam masalah pekerjaan. Teamwork yang belum berjalan maksimal, unsur like dan dislike sering menjadi problem klasih, baik dalam tataran pekerja pemula ataupun senior. Lagi-lagi, meningkatkan kemampuan bisa dilakukan dengan tidak hanya berpikir dalam ranah internal saja bukan? Yang terpenting dilakukan adalah bekerja dengan benar, target tercapai, jujur. Apapun rewards yang didapat serahkan pada yang berwenang. Yang berwenang tidak membuka mata? Di atas langit masih ada langit. Langkah pertama sudah benar, tidak ada alasan untuk menodai langkah berikutnya dengan keburukan.

kamuflase


Ada satu teman, pencitraan dirinya begitu hebat, sehingga orang melihat ia sebagai sosok yang kuat, potensial, dan mampu. Di satu sisi saya pernah memiliki pengalaman yang membuat saya mengerenyitkan dahi. Sosok yang begitu kuat itu akhirnya saya pahami sebagai manusia biasa, yang tak luput dari banyak kekurangan.

Mungkin banyak sebagian dari Anda yang pernah memiliki pengalaman serupa dengan saya. Bahkan sikapnya bisa menjadi bumerang bagi pencitraan yang diciptakan di media, di social media, dan lainnya. Bagi saya kok sederhana saja. Menjadi diri sendiri itu jauh lebih bermartabat, dari pada menjadi orang lain yang dikagumi. Toh, semua sadar bahwa rumus manusia adalah ketidaksempurnaan.

Sabtu, 07 Januari 2012

sabar itu syukur

Sering ada ungkapan orang sabar disayang Tuhan. Klasik bukan? Tapi hingga sekarang toh kalimat itu masih relevan dan bahkan benar adanya. Dalam berteman, tentunya banyak pergeseran pendapat terjadi, bisa menimbulkan pertengkaran. Ketika kita bercerita kepada sahabat, tak jarang mendapat masukan supaya kita lebih bersabar. Ya, itu pemaknaan untuk lebih bersyukur. Melihat permasalahan sebagai suatu proses pendewasaan diri. Toh sudah ada rumus bahwa Tuhan menciptakan masalah sesuai kemampuan hamba-Nya. Kita akan naik kelas apabila bisa melewati masalah yang ada.

Apakah kita sudah cukup bersabar? Kata orang, sabar itu tidak ada batasnya. Jadi kalau kita sudah mentok dan merasa kesabaran sudah habis, artinya kita belum cukup bersabar. Lalu sampai kapan? Ya itu selamanya akan menjadi proses. Sampai hidup berakhir.

Kamis, 05 Januari 2012

Anda dan Bahasa


Entah apa karena saya pernah kuliah di ilmu bahasa, sehingga sampai saat ini sering menilai sesuatu dari kata-kata seseorang, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan. Waktu saya SMA, guru Bahasa Inggris saya mengatakan bahwa saya adalah salah satu siswa yang sering ngawur dalam menjawab pertanyaan, tetapi ironisnya, jawaban ngawur saya itu betul. Itu karena guru saya sangat paham, saya memahami bahasa bukan sebagai ilmu, tetapi perasaan, budaya, manusiawi. Karena tiap saya selesai menjawab dan ditanya alasannya mengapa, saya pasti tidak bisa menjawab. Saya memang sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, karena di dalamnya ada banyak hal yang bisa saya pelajari, ada sastra, ada teknik penulisan efektif, dan sebagainya.

Kemudian saya pernah bertemu dengan seorang tokoh pendiri Jawa Pos. Waktu itu saya berada di stasiun kereta dan sedang membaca jurnal buruh produksi kakak kuliah saya. Ternyata ia diam-diam mengamati gerak-gerik saya. Hingga kemudian saya tersadar bahwa ada orang yang memperhatikan saya. Bapak itu menanyakan asal kuliah saya. Baru kali itu saya mendapat penilaian luar biasa, bahwa kuliah di fakultas bahasa adalah keberuntungan yang maha dahsyat. Di Indonesia ini salah satu masalah, menurut si Bapak, adalah cara berbahasa yang kurang benar. Banyak orang tidak menguasai bahasa dengan baik, sehingga keliru dalam menyampaikan maksud. Padahal dengan penguasaan kosa kata, kita bisa menguasai dunia. Contoh nyata adalah, betapa orang terpukau dengan pidato proklamator RI Bapak Soekarno. Masih jelas terngiang pidato Obama yang begitu pasti, meyakinkan, sehingga menang dalam pemilihan presiden. Kuncinya ada di bahasa, ada di penguasaan kosa kata.

Jadi, kita bisa menilai seseorang (salah satunya) dari gaya dalam bertutur kata, menulis surat, mengetik email, hingga update status BBM, facebook, ataupun twitter. Apakah ia sudah cukup terlihat matang, kekanak-kanakan, atau abu-abu. Tanda seru, titik, koma, adalah atribut yang bisa mencerminkan apakah seseorang sedang marah, sedih, atau meracau tak jelas. Ini jelas, ilmu dasar yang sudah pernah kita pelajari waktu sekolah dasar. Karena itu, ada baiknya sejak sekarang, mari memanfaatkan kosa kata sesuai fungsinya.*

Rabu, 04 Januari 2012

Djogdjakarta Slowly Asia (2)


Kalau kebetulan anda berkunjung ke Djogdjakarta dan penasaran dengan slogan ini, sangat disarankan untuk mampir ke Roemah Pelantjong, jl. Magelang km8 nomor 89 Sleman. Di sinilah anda akan dengan sangat mudah mendapat gambaran mengenai Djogdjakarta Slowly Asia. Roemah Pelantjong adalah swalayan wisata pelan pertama di dunia yang diproklamirkan pada 18 Juni 2011 dan membaptiskan Djogdjakarta sebagai ibu kota terpelan di dunia.

Di Roemah pelantjong anda bisa menemukan berbagai produk dengan cerita yang terkandung di dalamnya. Begitu sampai di areal parkir, anda akan masuk di wilayah slow zone. Pengunjung akan berhenti sejenak menikmati lukisan (mural) yang mencerminkan budaya filsafatis Djogajakarta. Di bagian kanan terpampang jelas berbagai produk seni berupa keris, batik, dan lainnya sebagai simbol 'pelan'. Begitu anda satu langkah ke dalam, tersedia beragam oleh-oleh yang dinamai tanda mata. Berbagai jenis makanan dengan teknik pembuatan serba pelan ada di sini, khas Yogyakarta, seperti kecap, bakpia, sirup, cokelat, sarsaparila, hingga beragam wedang. Semuanya bisa anda bawa pulang untuk oleh-oleh.

Pojok Sukribo merupakan alternatif lain bagi anda yang suka sentilan-sentilan halus, tapi nyengit. Kegelisahan tokoh kartun Sukribo tentang kondisi negeri, perilaku pejabat, dan lainnya. Semua terwujud dalam produk kaos dan karikatur yang semuanya bisa anda nikmati di sini. Pecinta kaos pun dimanjakan dengan berbagai disain dengan tema Djogdjakarta Slowly Asia. Disain yang unik, asik, keren, gaul, dan bisa menjadi kenang-kenangan berkesan dari kota wisata sarat budaya ini.

Anda capek? Bosan dengan rutinitas hidup? Kini anda bisa rileks dan santai di Repoeblik Nongkrong. Kafe angkringan dengan interior khas Jawa kuna tapi tak lekang dimakan jaman. Bermacam wedang hangat dan minuman dingin siap menemani anda bertemu relasi bisnis, sekedar bersantai, atau ngobrol bersama keluarga. Areal ini dilengkapi dengan free wifi sehingga selain bersantai anda juga bisa tetap lancar menjelajah dunia virtual.

Tentunya masih banyak yang bisa saya ceritakan dari Roemah Pelantjong ini. Tetapi akan lebih afdol apabila anda datang dan menyaksikan sendiri. Selamat datang.......di Djogdjakarta Slowly Asia.