Senin, 23 Januari 2012

Tahun Baru Imlek


Tahun baru Imlek kali ini istimewa menurut saya. Saya melewatkan malam tahun baru dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Semarang. Sepanjang perjalanan diguyur hujan, katanya sih pertanda rejeki bagus. Saya baru saja menyelesaikan satu event pembukaan pameran Nagadjawi untuk Roemah Pelantjong, tempat saya bekerja di Yogya. Event dalam rangka menyambut tahun baru Cina, yang pada tahun ini dinaungi shio Naga air. Saya sangat bersyukur bisa bekerja dalam teamwork yang menyenangkan, dengan pemimpin hebat. Dan lagi, sesampai di Semarang saya juga sangat senang berkumpul bersama keluarga.

Satu hal lagi, setelah melewati 2 tahun baru sebelumnya, tahun baru muharram, tahun baru masehi, kali ini saya mendapat rahmat luar biasa. Hal yang selama ini saya tahan, saya hanya bisa diam, akhirnya terbuka, berkat Kuasa Tuhan. Saya kok selalu yakin ya, bahwa berbuat baik itu lebih dari cukup, untuk menghadapi segala masalah. Berpikir, berbuat baik tentu akan mendapat baik. Meski semua harus ditebus dengan kesabaran yang panjang, tetapi toh semua bisa berhasil, alam tak akan diam merespon apa yang selama ini kita ingini itu baik dan benar.

So guys, selamat tahun baru imlek untuk anda yang merayakan. Apapun hikmah tahun baru kali ini semoga menjadi yang terbaik buat Anda. Gong xi fa cai:)

berteman juga pakai hati


Dalam pergaulan, ada orang yang punya teman sangat banyak, tetapi ada pula yang sedikit teman. Biasanya seseorang memiliki teman banyak karena ia ramah, mudah bergaul, pintar, jujur, dan apa adanya. Ia juga tidak pilih-pilih teman. Satu sisi, apabila ada orang yang cenderung dijauhi teman, biasanya karena ia menjengkelkan, suka berbohong, sombong, dan pilih-pilih teman. Itu beberapa rumus dalam pertemanan.

Jauh dari hal itu, berteman itu juga memakai hati. Bagaimana kita bisa peka terhadap kesedihan teman, ikut bersuka ria ketika teman mendapat promosi, dan bisa bekerjasama dalam teamwork. Sepertinya mudah ya? Tetapi dalam realisasinya banyak hal yang menyebabkan seseorang gagal dalam pertemanan. Salah satu contoh adalah karena ego. Ia ingin terlihat menonjol di antara teman yang lain. Apalagi kalau itu dilakukan dengan segala cara, termasuk sampai menyakiti hati teman yang lain. Well, ini tentu garis yang sangat membahayakan, sebaiknya waspada sebelum anda ditinggalkan teman-teman.

Mengapa harus memakai hati? Tiap-tiap kita dianugerahi perasaan yang peka terhadap masalah sekitar. Apabila teman sedang bersedih, tak ada salahnya kita turut bersimpati, dengan memberikan pelukan misalnya. Atau sekedar mendengar keluh kesahnya. Demikian pula ketika teman mendapat simpati berlebih dari orang lain. Sebaiknya dukung selalu dan waspadai lingkungan sekitar. Bukannya malah iri dan mencoba terlihat bisa lebih menonjol dan menarik perhatian dari si teman itu. Kalau kita punya kemampuan lebih, mungkin akibatnya bisa baik. Tetapi kalau sebaliknya? Bunuh diri kan? Lebih baik cari tahu mengapa si teman bisa menarik perhatian orang lain, apakah karena kejujurannya, kepintarannya, atau hal lain? Tidak perlu iri, karena tiap-tiap kita dianugerahi talent yang luar biasa dari Tuhan. Be your self.


Rabu, 18 Januari 2012

Style


Apakah Anda termasuk orang yang memperhatikan "gaya"? Gaya dalam hal ini meliputi cara berpakaian, berbicara, menulis, makan, dan lainnya. Saya hanya ingin berpendapat saja untuk kasus ini. Menurut saya, 'gaya' itu salah satu hal penting yang bisa mencerminkan karakter seseorang. Maka tak heran kalau orang dengan sekian banyak pengalaman bisa berubah dalam hal 'gaya' ini.

Prie GS, seorang budayawan dan motivator dari Semarang, dalam paparannya, waktu saya mengikuti acara gathering salah satu perusahaan sebelumnya begitu kebingungan dalam menentukan cara berbusana, tiap ia diminta menjadi pembicara di depan ratusan karyawan perusahaan ternama. Ia merasa memakai apapun seolah tak pantas, membuatnya tak percaya diri. Sampai kemudian ia menemukan 'style' berbusana, yaitu batik atau segala baju berwarna hitam. Motivator lain, Kafi Kurnia si anti marketing merasa nyaman dengan memakai jeans dan t-shirt. Baginya 'style' seperti itu cukup membuatnya confident dan memiliki identitas. Dari beliau pulalah saya mendapat ilmu bahwa menentukan 'style' menjadi satu hal yang baik dan membuat harga jual kita menjadi meningkat.

Pada diskusi ringan dengan jurnalis dari luar negeri, saya mendapat pencerahan pula dalam hal ini. Ternyata di sana, training yang diberikan untuk jurnalis, dan merupakan hal penting adalah cara berbusana. Di Indonesia mungkin itu menjadi hal yang disepelekan, tetapi di luar, cara berpakaian bisa menentukan tingkat sosial, penghargaan terhadap lawan bicara, dan sudut pandang yang positif. Ia mengatakan bahwa cara berbusana jurnalis minimal harus sepadan dengan narasumber. Setingkat lebih tinggi, malah lebih baik.

Well, dalam lingkungan kerja pun, cara berbusana menjadi salah satu faktor seseorang itu mendapat penilaian cukup baik atau tidak. Even kita berseragam, menentukan 'gaya' sendiri menjadi salah satu indikasi seseorang itu 'berbeda', istimewa, tidak kreatif, atau biasa-biasa saja. paling tidak, dengan tampil bergaya, orang lebih dahulu akan memperhatikan kita dari pada orang lain bukan? So silahkan bergaya nyentrik, sopan, rapi, unik....create your own style.

Senin, 16 Januari 2012

be nice or leave


Menjadi orang baik saja banyak tak disuka, apalagi menjadi jahat. Itu kalimat untuk menggambarkan betapa banyak ketidakpuasan di dunia ini. Kadang kita sebal melihat kelakuan teman yang sering membuat ulah, mengecewakan dan bahkan tega memfitnah kita. Tetapi di sisi lain, ada orang berbuat baik tetap saja kena salah, dicaci sana-sini, dianggap mencari muka, dan lainnya. Jadi apa sih mau orang sebenarnya?

Saya menulis ini juga hanya sebagai perenungan pribadi, persoalan ada yang merasa tersentil atau setuju, sok atuh, tidak masalah. Bahwasannya ketika kita sedang mencoba menjadi orang baik, bukan tidak mungkin malah lebih banyak godaan yang bisa menggoyahkan niat itu. Fokus, menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Biarkan saja orang sirik terhadap kita, yang penting niat baik akan berujung baik, itu keyakinannya. Apakah itu bermanfaat buat orang lain? Well, tak perlu jauh mengukurnya dengan pencapaian orang lain, mending konsentrasi kepada diri sendiri, sudahkah itu bermanfaat bagi diri sendiri? Karena semua akan terpusat dari diri sendiri dahulu, baru ke orang lain.

Kalau mau diukur, dengan ada resiko tak disuka orang ya mending untuk berbuat baik kan? Selain memancarkan energi positif, itu juga baik untuk diri sendiri. Bawaannya kalau kita positif akan lebih tenang, kalem, tidak terburu-buru, menjadi enak dilihat, berpengaruh positif pula bagi orang sekitar. Sebaliknya kalau kita terlihat gelisah, tak tenang, menyembunyikan sesuatu, bisa membuat insomnia, sesak nafas, sakit perut, gemetar, hingga darah tinggi. Oh no!

Minggu, 15 Januari 2012

imagine



Mentor, guru, motivator, boss, sekaligus sahabat saya Kafi Kurnia sering mengatakan bahwa imajinasi itu lebih penting dari ilmu pengetahuan. Saya sangat mempercayai hal ini, karena beberapa kali terjadi dalam kehidupan pribadi saya. Beliau senantiasa berpesan supaya jangan malu-malu berimajinasi tentang apapun, karena di situlah sumber ide yang akan mengubah dunia. Wow!

Teman saya pernah mengatakan bahwa saya seorang yang imajiner, pekerjaannya berimajinasi terhadap sesuatu. Sampai dengan berseloroh ia mengatakan bahwa pasanganpun bagi saya adalah tokoh imajiner. Haha....ini sih tak benar sepenuhnya, hanya bagian tertentu saja.

Dalam film-film kartun apapun terlihat lucu dan menarik, karena imajinatif. Bayangkan dalam kartun Tom and Jerry misalnya. Tom bisa membentur tembok, menjadi pipih, kemudian hidup lagi, berkelakar, jatuh lagi, seolah nyawanya rangkap tujuh. Toh itu menjadi suatu hal yang sangat menghibur dan tontonan menjadi terkenal di saentero dunia. Kemudian bagaimana orang berimajinasi menciptakan panggung pertunjukan raksasa yang begitu megah, spektakuler, ketika menjadi kenyataan, betapa seluruh dunia dibuat ternganga kagum tak berujung. Pada sebuah kegiatan event organizer, imajinasi sangat penting. Bagaimana kreativitas seorang pemilik ide menjadi kemasan pertunjukan yang membuat orang tersihir dan tak terlupakan. Apalagi ketika ide tersebut tidak dimiliki orang lain.

Lalu bagaimana memunculkan imajinasi? Banyak membaca, melihat, bergaul, menjadi hal mutlak yang harus dilakukan oleh kita supaya imajinasi jalan. Tanpa itu, daya kreativitas kita akan tumpul, mentok sampai di situ saja. Dan satu hal lagi, mengadopsi kreativitas orang lain itu sah, asal lebih baik, dan jujur. Hukum yang tak boleh dilawan adalah mengakui karya orang lain menjadi karya kita, karena ini justru akan menjadi boomerang. Don't do it.

selamat datang cinta


Tahun baru identik dengan serba baru, baik itu semangat, potongan rambut, resolusi, harapan, hingga pasangan. Saya tak mau ambil pusing apakah ini terbawa euforia atau tidak, yang jelas sesuatu yang baru apalagi lebih baik, itu lebih penting. Terkesan curcol sih. But anyway, Saya bersyukur dengan kehidupan di tahun 2011, dengan segala suka dukanya. Baik dalam kehidupan karir, persahabatan, hingga percintaan. Mempertahankan suatu hubungan yang semu itu menyakitkan, teman. Karena itu saya memilih menghentikannya, membuka asa baru. Entah kebetulan atau tidak, tetapi tahun baru 2012 menjadi begitu bermakna bagi saya.

Saya menjadi lebih bahagia sekarang. Seperti pepatah bilang, manusia diberi ujian sesuai kemampuannya. Memang awalnya terlihat begitu berat. Tetapi toh bisa juga. Saya kok menjadi lebih bersemangat untuk berbuat lebih baik saja. Apapun resiko yang ditimbulkan, intinya satu, baik itu tetaplah baik dan akan mendapat baik.

Dalam berhubungan dengan teman, tak jarang gosip miring lebih banyak disukai daripada kabar baik dari seorang kawan lama. Begitu kabar satu kalimat negatif ke luar dari satu mulut, langsung menyebar seperti virus, begitu cepatnya. Tetapi apa kabar dengan berita baik? Kebanyakan orang iri, memilih tidak menyebarkan berita itu. Berita negatif lebih banyak disuka.

Banyak media memberikan informasi kerusuhan, korupsi, kebohongan, perceraian, kebanyakan bercitra negatif. Ah please....kalau kita tidak mengimbangi dengan segala sesuatu yang positif, energinya akan selalu seperti itu. Come on media, kalian bisa bersuara positif, baik, untuk kebaikan ini. Kalau memang ada fakta negatif, pastilah ada solusi. Yuk ah jangan beri masyarakat pembaca satu pilihan. Cover both side itu wajib hukumnya. Seperti dalam hidup kan? Ada hitam dan putih.

Maka dari itu, mumpung tahunnya masih baru, masih awal bulan. Nggak ada salahnya dari sekarang mencoba balance. Kalau banyak orang berprasangka negatif, mari kita lawan dengan selalu berpositif thinking. Banyak orang benci? Cinta itu lebih powerfull, menghidupkan, menyenangkan, menggairahkan. Betul? So...love and peace itu kekuatan super. God Bless You :)

nyaman atau tidak?


Dalam perbincangan di manapun, kalau menyoal jender pasti akan menjadi perdebatan yang panjang. Even ketika ngobrol ringan sambil ngopi. Memang sih, faktanya sampai sekarang hal itu masih menjadi hal menarik. Supaya tidak salah kaprah, mari berpikir secara sederhana sajalah.

Saya sendiri tergabung dalam keanggotaan Koalisi Perempuan Indonesia, organisasi massa yang menyosialisasikan isu kesetaraan jender. Di dalamnya banyak divisi yang kesemuanya tentu saja berjuang dalam ranah penyetaraan perempuan dan laki-laki. Sepertinya terlihat radikal ya? Well, silahkan saja bebas berpendapat.

Dari dulu saya mencontohkan simpel saja. Setara itu apabila kita merasa nyaman dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, saya punya pasangan yang super sibuk, pada saat itu aktivitas saya sedang biasa-biasa saja. Tak ada salahnya kok ketika ia pulang kantor, saya yang menyiapkan secangkir teh manis untuknya. Saya nyaman? Iya. Ia? Tentunya. Sebaliknya, ketika saya menjadi mahasibuk, sementara ia hanya ongkang-ongkang kaki, baca koran, apa saya juga masih perlu menyiapkan makan malam untuknya? Oh no. Saya mulai tidak nyaman dengan hal ini. Saya akan merasa sangat nyaman apabila ia datang, membawa makan malam. Hehehe....

Apakah perempuan harus bisa masak? Jawabannya tidak harus, kalau itu membuat Anda merasa tidak nyaman. Tetapi kalau Anda suka memasak, why not? Di luar negeri tak hanya perempuan kok yang pintar memasak, laki-laki lebih jago bahkan. So, ini hanya masalah sudut pandang saja. Kalau di antara pasangan sudah merasa tak nyaman melakukan pekerjaan domestik, ini namanya tidak setara.

Itu beberapa contoh saja, masih banyak lagi contoh lain.